Skip to content


Mengintip Capital Gain

idxSetiap investasi di saham pada dasarnya ada dua jenis keuntungan yang selalu dikejar pelaku pasar, yakni deviden dan capital gain. Dividen merupakan sisa keuntungan yang dibagikan kepada pemegang saham, sedangkan gain adalah selisih positif antara harga beli saham dengan harga jual saham. Namun, dua jenis imbal hasil itu memiliki makna berbeda. Dividen mencerminkan sikap investasi jangka panjang, sedangkan capital gain lebih bersifat jangka pendek. Investor bisa meraih gain sewaktu-waktu jika harga saham yang dibelinya telah melewati harga belinya.

Capital gain selalu menjadi impian investor dimana-mana di dunia. Capital gain merupakan keuntungan yang paling riil, dan cepat. Gain,� bisa datang sewaktu-waktu. Ia bisa datang sesaat setelah membeli saham, dalam hitungan jam bahkan menit. Tapi� sering juga ia baru� datang berbulan-bulan setelah saham dibeli. Cepat tidaknya untuk mendapatkan capital gain sangat tergantung pada situasi ketika saham dibeli. Bagaimana kondisi fundamental dan teknikal dari saham ketika dibeli, dan ada tidaknya informasi material yang mendukung kenaikan harga saham. Tanpa adanya informasi yang mendukung, saham hanya akan bergerak datar dan tidak bisa mendatangkan capital gain yang menggiurkan.

Selain itu, soal likuiditas saham juga ikut menentukan. Saham yang memiliki fundamental bagus, tehnikal juga bagus dan didukung informasi valid dan material, namun jika tidak ada likuiditas di pasar maka sahamnya juga akan sulit bergerak. Jenis saham yang seperti ini kalaupun bisa menciptakan capital gain bagi investor, maka ia membutuhkan waktu cukup panjang.

Jika kurang yakin, simak saja dalam beberapa hari di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham-saham yang mampu melahirkan capital gain pada umumnya adalah saham-saham dari perusahaan yang fundamentalnya solid, laba maupun penjualannya naik stabil dari tahun ke tahun dan sahamnya likuid. Contohnya bisa ditelusuri di pasar. Umumnya yang memiliki karakter seperti ini adalah saham-saham berkapitalisasi besar dan blue chips.

Saham Lapis Dua

Meski saham blue chips lebih berpotensi mencetak capital gain, bukan berarti saham lapis ke dua (second liner) atau bahkan lapis ke tiga (third laner) tidak memiliki potensi menyuguhkan gain bagi investor. Malah tidak jarang saham lapis ke dua dan ke tiga ini memberikan gain yang lebih gurih dibandingkan saham di papan utama.

Di atas kertas kemungkinan saham lapis dua mampu memberikan gain yang lebih mantap dibandingkan saham lapis utama juga punya dasar. Umumnya saham lapis dua dinilai lebih berisiko dibandingkan saham papan utama. Karenanya, investor yang bermain di wilayah ini juga investor yang lebih punya nyali dan memiliki adrenalin kuat. Dan disini juga berlaku pepatah investasi high risk high return, semakin tinggi risiko yang dihadapi semakin besar potensi yang terkandung di dalamnya.

Analoginya sama dengan kebijakan global invesment company yang selalu mengasumsikan investasi di negara berkembang sebagai investasi yang berisiko. Makanya,� porsi investasi portofolio di negara berkembang umumnya minim sekali. Namun saat portofolio di negara berkembang itu tumbuh, maka persentase imbal hasilnya akan melewati investasi portofolio di negara maju.

Nah, jika pelaku pasar mau menyisihkan waktu sedikit untuk riset, bukan tidak mungkin akan menemukan saham-saham lapis dua yang memiliki masa depan kinclong, secara fundamental kuat, track record bagus dan stabil, dan dikelola oleh manajemen. Perusahaan seperti ini meskipun dari sisi� likuiditas tidak selikuid saham papan atas, tapi ia mempunyai masa depan yang cukup menawan. Ia menjanjikan gain yang menarik untuk jangka panjang. Coba deh. (Tim BEI)

Posted in Ekonomi.

0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

Some HTML is OK

(required)

(required, but never shared)

or, reply to this post via trackback.